![]() |
Photo by Alice Pasqual on Unsplash
https://unsplash.com/photos/Olki5QpHxts
|
*Disclaimer dulu guys, di tulisan kali ini saya akan (agak) menyinggung sedikit tentang masalah keuangan tentunya bagi anak muda, tapi bagaimanapun bukan berarti saya seseorang yang ahli dalam hal financial atau pakar keuangan ya guys...
BeTeWe, kenapa
juga ya saya kasih judul tulisan ini seperti judul yang diatas? Well guys,
tadinya saya mau kasih judul ‘Gaya hidup bebas hutang’ tapi maaf karena hutang
itu banyak jenisnya dan biasanya masalah yang terjadi pada kaum muda yaitu berupa
utang cicilan: nyicil rumah, nyicil mobil, nyicil motor, nyicil handphone,
nyicil baju, nyicil calon istri/suami... eh sorry... iya guys serba nyicil
pokoknya.
“gaya berbanding
lurus dengan tekanan, makin banyak gaya makin banyak tertekan.” Maksudnya apa
nih? Tapi ada benernya juga ungkapan ini, gaya hidup kebanyakan orang yang
kekinian diibaratkan hukum fisika.
Kalau
dipikir-pikir apa yang menyebabkan orang itu ‘ngutang’? jawabanya sih variasi,
bisa jadi karena kebutuhan, kemusibahan, atau keinginan. Tetapi berdasarkan
yang saya amati, kebanyakan dari mereka yang berhutang itu adalah berdasarkan
keinginan intinya ya gak mendesak-mendesak amat tapi mungkin karena tuntutan
gaya hidup.
Berikut beberapa
kasus yang bisa menyebabkan hidup selalu terbelenggu dengan utang cicilan dan
pastinya kamu sudah harus tahu apa yang harus kamu lakukan setelah membaca ini.
Case-1: Nyicil rumah
“Apa yang salah
dengan nyicil rumah, toh nanti juga jadi milik kita daripada ngontrak terus!”
Mungkin kamu
pernah atau bahkan sering mendengar pernyataan seperti diatas. Sebenarnya tak
ada yang salah dengan menyicil rumah jika hal itu dilakukan pada seseorang dan
tanpa bunga. Sayangnya, hal tersebut jarang terjadi, Guys!
Banyak pasangan
muda yang telah menikah pastinya mereka ingin punya rumah sendiri. Ingin
mandiri, bagus sih tapi karena masyarakat di kita cenderung memandang kalau
udah nikah tuh harusnya punya rumah sendiri, akhirnya karena termakan stigma masyarakat
meski gaji terbilang pas-pasan mereka maksain deh nyicil rumah KPR yang DP-nya
aja tuh selangit padahal ngontrakpun gak selalu dipandang jelek. Kalau ngontrak
rumah aja masih bisa nabung, why not. Sayangnya kebanyakan orang gak gitu
mikirnya, justru mereka berpikir daripada uangnya terus-menerus buat ngontrak
rumah mending nyicil rumah yaitu tadi KPR dengan jangka waktu bertaun-taun.
Padahal sejatinya rumah itu dibangun bukan diangsur.
Case-2: nyicil
keendaraan pribadi
*ilustrasi percakapan
*ilustrasi percakapan
Teman: “War, gak capek apa tiap pepergian jalan kaki mana cuacanya panas lagi?”
Saya : “Ya kadang capek juga
sih.”
Teman: “Ih kalau aku jadi kamu
aku udah pesen ojek.”
Saya : *he... (cuman bisa nyegir)
Teman: “Beli motor aja biar gampang kemana-mana, naik angkot mah ribet!”
Saya : “Uangnya belum ada... masih
nabung.”
Teman: “Yaelah, nunggu nabung mah lama. Kalau
aku jadi kamu aku udah ngredit motor.”
Saya : “Nggak ah... Aku mana
berani ngredit-ngredit gitu cicilanya kan gede.”
Teman: “Kan kamu udah kerja... Bisa mereeun nyicil, ambil yang 3 tahun aja
biar agak ringan. SEKARANG MAH KALAU
GAK NYICIL GAK BAKAL PUNYA.”
Saya : “Iya juga ya... Eh tapi...
(*confused)
“Sekarang mah
kalau gak nyicil gak bakal punya” sekilas kayak yang bener tapi sebenarnya
mematikan. Nyicil? Maksud anda kredit?! Whatever! Biasanya kalau kredit
kendaraan gak jauh dari leasing guys,
saya aja bingung aturanya gimana. Yang namanya ngredit kan bayarnya dengan cara
dicicil berarti itu barang udah jadi milik kita sekalipun bayarnya nunggak,
tapi tidak dengan leasing, sekali nunggak barangnya ditarik lagi tanpa uang
kembali (yaiya kan dibayarin dulu sama pihak lain, siapa yang mau rugi).
So, masalahnya
dimana? Ya, saya merasa miris aja dengan banyaknya generasi sekarang, mudah
tergoda dengan cicilan ini itu. Terkadang banyak didapati kaum milenial yang
mungkin belum lama dapat kerja tetapi berani memaksakan nyicil ini itu terutama
kendaraan yang mana jangka waktu nya itu bisa dibilang lama. Tak terpikir kalau sewaktu-waktu ingin
berhenti kerja atau diberhentikan sedang cicilan masih panjang seolah tak ada
kebebasan jika hidup terbelenggu cicilan.
Case-3: belanja pake
kartu kredit.
Wong ndeso
seperti saya munkin akan amazed
ketika melihat orang belanja dan mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya.
padahal apa yang musti dibanggakan dengan belanja pake kartu kredit yang
sesusnggunya ngutang hanya karena diberi kemudahan berbelanja, atau iming-iming
cicilan 0%. Lalu, ketika tagihan kartu kredit membengkak dan kamu pun tak mampu
bayar, kamu akan dipusingkan dengan debt collector yang selalu mengejarmu.
Sekarang mau hp
baru aja bisa ngredit, tak sedikit juga yang melakukan hal ini terlebih yang suka
gonta-ganti smartphone karena tidak ingin katinggalan keluaran terbaru. Kalau
ada kartu kredit pengen smartphone baru pun bisa lebih mudah, mungkin begitu
pikirnya.
Case-4: pinjam modal
(bank) untuk bisnis
Menurut saya hal
ini juga termasuk kesalahan besar apalagi jika harus pinjam ke bank. Menjalani
sebuah bisnis itu baiknya pikirkan untung-ruginya. Ok... oke... bisnis atau punya usaha sendiri itu bagus lagian siapa sih yang mau jadi karyawan terus tetapi seringkali menjalani
suatu bisnis itu tidak selalu lancar dan mulus apalagi kalau kurang diimbangi ilmunya. Contohnya, bila kamu membuka
usaha atau berdagang yang mana dalam setiap harinya tidak selalu banyak
pembeli, parahnya kita selalu membuat spekulasi dalam berbisnis berharap
mendapat omzet banyak. Jika modal sendiri, seandainya bankrut hal ini memang
masalah dan jika uang yang jadi modal usaha berasal dari pinjaman bank maka hal
itu lebih masalah bahkan akan lebih buruk yang pernah menimpamu.
Banyak orang
berkata bahwa di zaman sekarang sulit untuk hidup terbebas dari utang apalagi
untuk yang sudah berumah tangga, anggaran makan, anggaran sekolah anak,
anggaran listrik, anggaran air, anggaran tempat tinggal, anggaran kendaraan
sementara gajih pas-pasan makanya ngutang.
Masalah
sebenarnya bukan dari keterbatasan uang yang kita punya melainkan ada pada mindset kita. Jadi apapun tergantung mindset kita, sangat tidak disarankan
berhutang kalau tidak mendesak-desak amat apalagi cuma untuk gaya hidup semata.
Tuhan ngasih rezeki ke kita untuk hidup bukan untuk gaya hidup, mulailah merasa
cukup dan selalu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Terkadang hidup
dengan banyak uang pun atau bahkan dikelilingi dengan barang-barang mewah pun
tak menjadikan kita secara emosional selalu bahagia. Banyak dari kita
bela-belain nyicil ini-itu padahal tujuan sebenarnya cuman buat orang merasa impressed atau terkesan terhadap apa
yang kita punya. Don’t do that, Dear!
Mulai sekarang
milikilah sesuatu yang sangat prioritas benar-benar kita perlukan saja. Lebih
baik nunggu lama menabung daripada berutang untuk sesuatu yang kita inginkan.
Yang perlu dilakukan adalah tingkatkan pendapatan bukan berutang.
Also read: Jalan kaki
Also read: Jalan kaki
No comments:
Post a Comment